Tubuhnya longlai berselimut duka,
Dalam kesejukan hari-hari tua
Mata melihat tidak mampu bersuara
Hanya memanggil dengan air mata,
Sejuta kata meniti dibibir
Tapi tidak pernah jatuh ke lembah
penjaga
Di tangan seorang isteri yang gagah,
Tidak pernah jemu tidak pernah lelah,
Mencurah kasih tidak berbelah
Mengharap usaha rahmat melimpah,
Akan tiba nikmat mencurah,
Dikala suami terhilang marah,
Nyanyian Kalamullah bergema dikamar,
Penguat semangat insan yang rebah,
Hidup di tilam mandi di bantal,
Makan bersuap tidur dibuai,
Meski semakin sakit
Diri semakin Diraja,
Isteri setia bidadari ke syurga
Hari tua penuh pasrah,
Ke mana warisnya?dimana puteranya?
Yang dulu ditatang dan dimanja,
Kini terdampar serata dunia
Menangis tidak bertentang mata
Ketawa tidak berkongsi rasa
Pulang hanya membawa sengketa
Menganti kasih dengan emas,
Sedangkan emas adalah racun dunia,
Tidak mampu..
Membeli kasih
Membayar usia
Menuntut masa
Adakah itu makna gadingmu?
Yang kamu cari ke penjuru hutan pusaka?
Yang kamu selam ke dasar lautan gelora?
Yang kamu daki ke puncak gunung tertua?
Kerdilnya akalmu….ceteknya
hatimu…rendahnya martabatmu
Hingga kamu tidak mampu mengukir
kebahagiaan dihati insan yang rebah
Hingga kamu lupa dia yang jadikan kamu
gagah,kuat,perkasa
Jika kamu seorang pahlawan,
Bangkitlah demi negaramu
Jika kamu seorang Penuntut,
Berjuanglah demi gurumu,
Jika kamu seorang Raja,
Bertitahlah demi rakyatmu,
dan jika kamu seorang anak,
berbaktilah demi orang tuamu
Seorang ibu tidak penat menjaga
Tetapi penat menunggu,
Menunggu saat anaknya pulang
Bukan bersama payung permata
Cukuplah sekadar senyuman berkaca
Tapi mampu menjadi peneman mereka
Hingga tiba saatnya,
Seorang ibu mampu menjaga sepuluh anak
Tapi sepuluh anak belum tentu dapat
menjaga seorang ibu,
Seorang bapa mampu bekerja untuk sepuluh
anak,
Tapi sepuluh anak belum mampu bekerja
untuk seorang bapa
Itulah pentas dunia,
Hebat berdialog tapi cacat kebenarannya,
Merdu berlagu tapi pincang iramanya,
Insan yang rebah terus rebah

No comments:
Post a Comment